Duh, 87% Mahasiswa Indonesia Salah Jurusan!

Duh, 87% Mahasiswa Indonesia Salah Jurusan!

Berikut akan kami berikan beberapa tulisan dari berbagai sumber, yang mudah – mudahan berguna bagi para pembaca blog kami.
========================================================
Rachmad Faisal Harahap Jurnalis
JAKARTA –
Ketika memilih jurusan pada saat masuk kuliah, tentu saja ada banyak poin yang perlu dipertimbangkan. Jangan sampai salah jurusan yang yang berakibat fatal pada dunia kerja.
Menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan.
"Salah jurusan bisa memicu pada pengangguran. Supaya tidak ada pengangguran lagi ya jangan sampai ketika kuliah salah jurusan," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (25/2/2014).
Oleh karena itu, Irene mengimbau kepada anak muda atau mereka yang baru saja lulus kuliah, jika bekerja dengan latar belakang pendidikan yang salah jurusan, maka hati dan skillnya tidak akan berkembang.
"Ketika interview, kalau passionnya enggak ada, pasti ketahuan. Kelihatan ketika ditanya oleh pihak perusahahan, exciting atau tidak. Kalau tidak, jawabnya pasti setengah-setengah," ucapnya.
Kecuali, Irene melanjutkan, apabila sang lulusan tersebut mengambil S1 yang salah jurusan, namun ketika mengambil S2 harus sesuai dan bisa melengkapi pekerjaannya.
(ade)
http://news.okezone.com/read/2014/02/24/373/945961/duh-87-mahasiswa-indonesia-salah-jurusan
===============================================================
September 19, 2016   Lelitasasi   PARENTING
CATATAN DARI KOPDAR “ MENYUSUN PROJECT AKTIVITAS REMAJA” bersama Ibu Diena Syarif

Duuh ..saya ini kok nggak pinter-pinter jadi ini. Ibu yang kudu terus belajar ilmu untuk mengasuh dan membesarkan anak – anak di jaman yang jelas berbeda dengan masa kecil dan remaja saya dulu. Hari ini saya berkesempatan menyimak pemaparan Bu Diena yang kesimpulannya jelas kita tidak bisa menyerahkan seluruh pendidikan anak – anak kepada sekolah saja. Tidak juga dengan memberikan les pelajaran ini itu hingga malam hari setiap hari. Bukan hanya itu yang dibutuhkan anak – anak kita.
Berikut beberapa hal penting yang saya catat.
Menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility ( IDF ) Irene Guntur, M.Psi.,Psi.,CGA, sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia salah jurusan. Sudah salah jurusan , sejak SD – kuliah anak – anak hanya dijejali dengan KNOWLEDGE ( pengetahuan ) , sementara SKILL , ATTITUDE kurang ( jangan – jangan nggak punya karena anak hanya disuruh menghafal dan ujiaanya check point ), apalagi TALENTnya nggak ketahuan. Lengkap sudah hasilnya adalah sarjana yang tidak siap pakai karena hanya banyak pengetahuan tanpa skill dan nggak punya “panggilan” jiwa karena  tidak tahu minat bakatnya apa. Jadinya orang – orang NATO ( No Action Talk Only ). Lhah tentu kita nggak pingin dong anak – anak kita seperti itu. Jadi apa yang harus dilakukan ?
Pertama kita sebagai orang tua kudu menyamakan persepsi dulu nih bapak dan ibu tentang apa itu SUKSES. Sukses adalah gabungan dari PERFORMANCE  KINERJA  dan PERFORMANCE MORAL yang baik.
Performance kinerja artinya produktif, menghasilkan karya sebanyak – banyaknya, syarat yang dibutuhkan adalah TASK – Talent (bakat ) , Attitude ( sikap ) ,Skill, Knowledge.

Performance moral mampu dan mau berbagi ke sebanyak – banyaknya orang yang membutuhkan bantuannya. Jadi sukses itu bukan tentang diri sendiri saja tetapi juga tentang orang lain yang bisa dibantu

Untuk menuju sukses tersebut ada proses yang harus dilewati. Nah di proses inilah para orang tua perlu merancang aktivitas / project  yang harus diselesaikan oleh anak diluar sekolah ( jika sekolahnya tidak ada project atau aktifitas selain belajar formal ).
Project / aktivitas yang dirancang untuk anak tentu  saja harus dipilih sesuai dengan minat bakat anak. Pastikan hasilnya 4E,
Easy mudah melakukan projectnya, 
Enjoy-anak suka melakukannya,
Excelent-sempurna sesuai dengan kapasitas dan usia anak saat melakukan project,
Earn-menghasilkan apresiasi dari orang lain, level yang lebih tinggi karyanya menghasilkan penghasilan.

Bagaimana cara menggali potensi anak ?
-      Berikan beragam aktivitas.
-      Frekuensi aktivitas sering
-      Aktivitasnya sebisa mungkin bertemu dengan banyak orang.

Magang ( pengalaman tiruan ) dan pengalaman langsung penting bagi anak karena pengalaman selama melakukannya akan diingat 90 – 100% dibandingkan hanya mendengarkan guru mengajar di kelas yang hanya akan diingat 5%.

Contoh project untuk anak – anak usia 10 tahun yang paling menyenangkan dan cukup kongkrit bagi anak adalah belajar berjualan makanan atau produk lain yang bisa mereka hasilkan sendiri, ( 3 tahun yang lalu anak saya memproduksi gelang, kalung , anting yang dijual ke teman – temannya). Bertahap sesuai dengan bertambahnya usia anak – anak mulai dikenalkan dengan profesi – profesi lain – lain yang lebih beragam. Ajak mereka berkenalan dan jika anak berminat titipkan 2 – 3 hari untuk melihat bagaimana sebuah profesi dilakukan. Ajak anak untuk mendiskusikannya. Apa yang sukai dan tidak sukai saat magang. Diharapkan melalui proses seperti ini di usia 16 tahun anak sudah siap untuk memilih bidang yang akan ditekuninya.


Sehingga syarat TASK ( Talent , Attitude , Skill, Knowledge ) terpenuhi seluruhnya. Jadi diharapkan anak nggak akan nyasar kuliah ke jurusan yang salah. Dan juga yang musti diingat, jangan kita memfasilitasi anak hingga mematikan kreativitas dan daya juangnya. Bukan hal yang mudah untuk kita lakukan sebagai ortu.

Demikian catatan ini saya tulis untuk pengingat diri saya sendiri dan semoga bermanfaat buat teman – teman yang membacanya.

Sumber : www.lelitasari.com


“ Perlu kita ketahui bahwa profesi apapun itu akan memberikan penghasilan dan kepuasan batin yang besar , jika dilakukan dengan maksiml dan sesuai dengan apa yang menjadi potensi , minat , dan tujuan hidup yang kita miliki “
Oleh : Reicky Saragih dan Tim TanyaKarir.com
Dikutip dari   www.tanyakarir.com