Stifin
kediri, kediri stifin, tes sidik jari kediri, tes stifin kediri, stifin jawa
timur, stifin jatim, jatim stifin
Seperti halnya lelaki dan perempuan dikotak-kotakkan
secara telak, begitu pula dengan hal genetik lainnya: mesin kecerdasan, drive,
IQ dan goldar.
Akan tetapi, bukan berarti lelaki tidak bisa
melaksanakan pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan dan sebaliknya, perempuan
melaksanakan pekerjaan laki-laki. Bisa saja. Dengan belajar, dengan pembiasaan
lingkungan dan sebagainya.
Namun tetap saja, ada beberapa hal yang sifatnya
sangat genetik sehingga tidak dapat digantikan. Soal menjadi orang tua
misalnya. Tetap para lelaki yang berfungsi menjadi ayah dengan segala
kelelakiannya (termasuk menyumbang sel sperma dalam proses pembuahan) dan
perempuan menjadi ibu dengan segala sifat dasar keperempuannya (dan menyumbang
sel ovum dalam perjalanannya).
Sehebat apapun seorang lelaki belajar tentang seluk
beluk pekerjaan perempuan, tak akan pernah bisa menggantikan tugas perempuan
dalam hal hamil dan menyusui langsung dari sumbernya. Dan sehebat apapun
perempuan belajar tentang dunia laki-laki, tetap saja tidak bisa mengalihkan
tugas itu pada suaminya bukan?
Seperti itulah permisalan kemampuan genetika
seseorang, termasuk tentang mesin kecerdasan. Jika dalam STIFIn yang jago
komunikasi itu adalah Feeling, lantas apakah mesin kecerdasan lain tidak bisa?
Tentu saja bisa. Syaratnya: mau belajar. Dan tidak ada jaminan seorang Feeling
akan pandai berkomunikasi jika ternyata dalam kesehariannya ia dididik untuk
menekan kemampuan dasarnya itu.
Maka STIFIn sebagai pisau berfungsi membedah core
competence seseorang. Yang dengan itu, harapannya kita akan tumbuh
memaksimalkan core competence tersebut. Dan untuk hal-hal lain yang dibutuhkan
dalam rangka memaksimalkan potensi diri (misal kemampuan public speaking,
kemampuan menuliskan isi pikiran, kemampuan berkomunikasi efektif, dsb) tentu
harus tetap dipelajari.
Agar seorang Thinking introvert misalnya, tidak hanya
mampu memikirkan detil hingga mendalam tapi juga dapat mengkomunikasikan hasil
pemikirannya pada khalayak sehingga lebih bermanfaat. Demikian seterusnya untuk
mesin kecerdasan lain.
Sepakat?
Salam hangat dari Bandung.
Esa Puspita
Edufamily Learner
Mahasiswi Psikologi IOU
Feeling extrovert





